cerita ciung wanara dalam bahasa sunda
Ceritaini banyak dibumbui dengan kisah kepahlawanan yang luar biasa seperti kesaktian dan keperkasaan yang tidak dimiliki oleh orang biasa namun dimiliki oleh Ciung Wanara. Kawasan yang luasnya kurang lebih 25 Ha ini menyimpan berbagai benda-benda yang diduga mengandung sejarah tentang Kerajaan Galuh yang sebagian besar berbentuk batu.
Caritapantun anu kawentar diantaran: Lutung Kasarung, Ciung Wanara, Mundinglaya di Kusumah, Badak Pamalang, jeung Nyai Sumur Bandung. Nah, demikianlah artikel mengenai Sejarah Dan Pengertian Carita Pantun Dalam Bahasa Sunda. Semoga bisa bermanfaat buat kamu, terutama untuk bidang pendidikan disekolah, dan terimakasih atas waktunya.
CiungWanara atau Sangiyang Adi Sakti merupakan generasi kedua dari Siliwangi, namun beliau tidak menggunakan gelar Siliwangi. Dilain pihak, dahulu terdapat keunikan dengan nama Batok Larang, sebab bagi keturunannya tidak boleh (pamali, Bahasa Sunda) menyebut batok, sekalipun itu batok kelapa sebenarnya.
Menurutcerita yang beredar di kalangan para sesepuh Sunda, runtutan para Buyut dan Rumuhun (Karuhun/Leluhur/Nenek Moyang) perjalanan bangsa Sunda di awali dari daerah Su-Mata-Ra. Mereka membangun kebudayaan selama beribu-ribu tahun di kawasan Mandala Hyang (Mandailing) daerah Ba-Ta-Ka-Ra sampai ke daerah Pa-Da-Hyang (Padang) pada periode
Suatubenda dapat dikategorikan sebagai peninggalan sosial budaya apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : a) Mempunyai nilai sejarah, ilmiah tanpa menyampingkan nilai keindahan. b) Dapat diidentifikasi menurut bentuknya atau wujudnya, tipe atau gayanya, fungsi dan asalnya, geografisnya, dan genus dalam orde biologi.
Site De Rencontre Totalement Gratuit Pour Homme Et Femme. -Legenda Ciung Wanara adalah cerita rakyat Sunda, yang sangat terkenal. Cerita rakyat ini tidak hanya terkenal di Jawa Barat saja melainkan di seluruh Ciung Wanara dipercaya sebagai cerita rakyat di zaman Kerajaan Sunda Galuh. Berikut ini Legenda Ciung Wanara. Legenda Ciung Wanara Di Desa Karangkamulyan terdapat sebuah kerajaan yan bernama Kerajaan Galuh dipimpin raja yang bijaksana bernama Adimulya Sanghiang Cipta Permana Dikusumah dengan permaisuri Dewi Naganingrum. Setelah beberapa tahun menikah, Dewi Naganingrum belum dikaruniai anak. Sementara, raja telah mengidam-idamkan memiliki anak untuk penerus tahtanya. Akhirnya, permaisuri meminta raja menikah lagi. Awalnya, raja menolak, namun ia menyanggupi permintaan permaisuri dengan syarat wanita tersebut harus pilihan permaisuri. Pilihan permaisuri jatuh pada Dewi Pangreyep selir. Perintah yang awalnya ditolak itu, akhirnya diterima Dewi Pangreyep. Dari pernikahan dengan baginda raja, Dewi Pangreyep hamil dan melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Hariang Banga. Baca juga Legenda Putri Lumimuut, Asal-usul Etnis Minahasa
Dongeng Ciung Wanara adalah salah satu cerita rakyat Sunda yang terkenal di seluruh Nusantara. Legenda ini menjadi salah satu cikal bakal terpisahnya Kerajaan Galuh menjadi Pajajaran dan Majapahit dengan perbatasan Sungai Cipamali yang nantinya menjadi Jawa Barat dan Jawa Tengah. Jejak peninggalan Kerajaan ini masih ada di antara hutan lindung seluas 25,5 hektar dan dilestarikan sebagai cagar budaya di Situs Karangkamulyan di Wahana Wisata Ciung Wanara di Desa Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis. Walau ada banyak versi dongeng Ciung Wanara, namun jalan ceritanya hampir sama. Penasaran cerita lengkapnya? Berikut legenda Ciung Wanara yang benar! Artikel Terkait Ke Ciamis Yuk!! 7 Objek Wisata Di Ciamis Murah Meriah Buat Keluarga Dongeng Ciung Wanara Dimulai Dari Perginya Sang Raja untuk Bertapa Dahulu kala berdiri Kerajaan Galuh yang merupakan sebuah kerajaan besar di Pulau Jawa, karena wilayahnya dimulai dari Hujung Kulon di ujung Barat Jawa, hingga ke Hujung Galuh “Ujung Galuh” yang merupakan muara dari Sungai Brantas di dekat Surabaya. Kerajaan Galuh diperintah oleh Raja Prabu Permana Di Kusumah yang bijak. Dia memiliki dua orang ratu, yaitu Dewi Pangrenyep dan Dewi Naganingrum. Suatu ketika, sang raja memutuskan untuk bertapa sementara waktu dan memanggil menteri Aria Kebonan untuk sementara menggantikan posisinya. Dengan syarat dia tidak boleh menggauli istri-istri raja selama menjadi raja sementara. Sang menteri bersorak girang dan menyetujui syarat tersebut. Raja mengubah Aria Kebonan menjadi sosoknya dan kemudian raja pergi meditasi dalam jangka waktu yang sangat lama. Aria Kebonan akhirnya mengubah namanya menjadi Prabu Barma Wijaya. Yang tahu kalau Aria Kebonan bukan raja asli adalah Uwa Batara Lengser, namun karena tidak punya bukti kuat dia tidak bisa melakukan apa-apa. Kedua Ratu Hamil! Ilustrasi. Tidak berapa lama sepeninggalan sang raja yang bertapa, kedua ratu hamil. Prabu Barma Wijaya sontak kaget dan memanggil seorang pertapa bernama Ajar Sukaresi yang memastikan kalau kedua ratu memang hamil. Berarti ini adalah anak sang Raja Prabu Permana Di Kusumah, karena Prabu Barma tidak pernah menyentuh istri raja. Si pertapa berkata kalau anak kedua ratu adalah laki-laki yang salah satunya akan melengserkan Prabu Barma Wijaya. Prabu Barma tidak terima dan menghunuskan keris ke Ajar Sukaresi, dan tubuh si pertapa dibuang ke hutan yang kemudian berubah menjadi seekor naga bernama Nagawiru. Tiba Waktu Persalinan Kedua Ratu Ilustrasi. Yang pertama melahirkan adalah Dewi Pangrenyep dan dia memberi nama putranya Hariang Banga. Lalu Prabu Barma Wijaya mengunjungi Dewi Naganingrum dan tiba-tiba keajaiban terjadi. Janin dalam kandungan Dewi Naganingrum yang belum lahir bisa berbicara dan mengatakan kalau Barma Wijaya melupakan banyak janjinya dengan melakukan kekejaman. Prabu Barma Wijaya kaget dan meminta Dewi Naganingrum segera pergi dari istana. Tapi karena sudah dekat waktu melahirkan, pengusiran itu pun diurungkan. Tiba waktu persalinan, Dewi Naganingrum ditutup matanya oleh Dewi Pangrenyep dengan lilin agar tidak melihat banyak darah. Namun dia menukar bayi Dewi Naganingrum dengan seekor anjing, sedangkan sang bayi dimasukkan ke dalam keranjang dan dibuang ke Sungai Citanduy. Dewi Naganingrum pun kaget ketika melihat anaknya yang berubah menjadi anjing, dia sangat sedih belum melihat bayinya sama sekali. Prabu Barma Wijaya pun mengusir Dewi Naganingrum dan memerintahkan Ki Lengser untuk membunuhnya. Uwa Batara Lengser pun tidak tega melakukan hal itu, di hutan dia membuatkan sebuah gubuk agar sang ratu Dewi Naganingrum bisa beristirahat. Dia meminta ratu agar jangan bersedih dan bersembunyi dulu di dalam hutan agar tidak dibunuh Prabu Barma Wijaya. Dia pulang dengan membawa pakaian ratu yang dilumuri dengan darah binatang sebagai bukti sudah membunuh. Ciung Wanara Ditemukan Sepasang Suami Istri yang Belum Punya Anak Di tepian Sungai Citanduy Desa Geger Sunten, bayi yang dibuang itu ditemukan oleh pasangan suami istri lanjut usia yang sedang menangkap ikan. Keduanya sangat bahagia dan membawanya pulang ke rumah. Saat mulai besar, anak itu bertanya tentang monyet dan burung yang dilihatnya di hutan. Akhirnya si anak dinamakan Ciung Wanara yang berarti Ciung artinya burung dan Wanara artinya monyet. Dongeng Ciung Wanara yang berkisah tentang Pemuda Gagah dan Tampan Ciung Wanara tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan. Bahkan menjadi idola di desanya, namun karena merasa berbeda dengan wajah suami istri yang mengasuhnya sejak bayi, dia bertanya dengan sopan asal usulnya. Suami istri tersebut akhirnya menceritakan kalau dia adalah bayi yang ditemukan di tepian sungai Citanduy dan bukan berasal dari desa tersebut. Kemungkinan arus sungai yang membawanya ke desa Geger berasal dari daerah Galuh. Ciung Wanara ingin mencari keberadaan orang tuanya dan hendak berangkat ke pusat kerajaan Galuh. Sebelum berangkat, suami istri tersebut memberinya sebuah telur dan memintanya menemukan unggas agar bisa menetaskannya. Namun dalam perjalan dia tidak berjumpa dengan unggas malah bertemu dengan Nagawiru yang tidak lain adalah jelmaan Ajar Sukaresi sang pertama. Nagawiru pun mengerami dan menetaskannya sehingga ayam tersebut tumbuh dengan cepat nan kuat. Lomba Sabung Ayam Berhadiah Kekuasaan Saat di kota, ternyata masyarakatnya suka dengan kegiatan sabung ayam. Melihat ayamnya sehat dan kuat, Ciung Wanara mengikutkan perlombaan sabung ayam berkali-kali. Dan hebatnya, ayam Ciung Wanara selalu menang. Di kota dia bertemu dengan tukang pandai besi yang akhirnya mengangkatnya menjadi anak. Prabu Barma Wijaya memang terkenal suka sabung ayam dan memiliki ayam jagoan bernama Si Jeling. Tidak heran kalau masyarakatnya juga senang dengan kegiatan sabung ayam. Biasanya ayam sang raja tidak pernah kalah, namun karena mendengar kalau ada pemuda yang ayamnya selalu menang dia pun penasaran dan ingin sabung ayam dengannya. Pemuda itu tidak lain adalah Ciung Wanara. Uwa Batara Lengser mencari Ciung Wanara karena Prabu Barma Wijaya memintanya untuk menyampaikan kalau raja ingin adu sabung ayam dengan ayam Ciung Wanara. Saat itu Uwa Batara Lengser langsung tahu kalau dia adalah bayi Dewi Naganingrum yang sudah menjadi pemuda dewasa tampan dan berwibawa. Uwa Batara Lengser pun menceritakan asal usul pemuda tersebut, Ciung Wanara sangat sedih dan ingin membalas perbuatan Prabu Barma Wijaya. Dia pun menyanggupi tantangan sabung ayam Prabu Barma Wijaya dan meminta hadiah apabila ayamnya menang maka separuh kerajaan harus diberikan padanya. Prabu Barma Wijaya menyanggupi permintaan tersebut. Dan tibalah waktu perlombaan, ternyata si Jeling kalah sama ayam Ciung Wanara. Prabu Barma Wijaya pun menepati janjinya untuk memberikan setengah kerajaan padanya. Kisah Balas Dendam dalam Dongeng Ciung Wanara Ciung Wanara ingin menghukum Prabu Barma Jaya dan Dewi Pangrenyep. Karena itu dia mengundang keduanya ke kerajaan barunya dan melihat sel penjara yang baru dibangunnya. Ketika mereka berada di dalam penjara, Ciung Wanara langsung menguncinya dari luar. Dan dia akhirnya membongkar semua kejahatan Prabu Barma Jaya dan Dewi Pangrenyep kepada masyarakat. Hariang Banga, putera Dewi Pangrenyep, sangat terkejut dengan penangkapan ibunya. Akhirnya dia dan tentara pengikut setianya menyerang Ciung Wanara. Pertempuran sengit pun tidak terelakkan lagi. Apalagi mereka berdua adalah pangeran yang kuat dan memiliki keahlian berperang yang tinggi. Pertempuran ini berlangsung sangat lama karena keduanya sama-sama kuat. Sang Raja Kembali Dari Pertapaan Ketika sedang bertempur di daerah sungai, Ciung Wanara mendorong tubuh Hariang Banga ke seberang sungai. Namun tiba-tiba muncul Raja Prabu Permana Di Kusumah didampingi oleh Ratu Dewi Naganingrum dan Uwa Batara lengser. Sang raja berteriak memarahi kedua anaknya itu karena pertempuran adalah hal yang pamali apalagi berperang dengan saudara sendiri. Agar adil, sang raja yang kembali dari bertapa tersebut membagi kedua wilayah kerajaan Galuh. Ciung Wanara akan memimpin kerajaan Galuh dan Hariang Banga mendirikan kerajaan baru di timur sungai Brebes yang sekarang menjadi Sungai Pamali. Pamali dalam bahasa Sunda artinya adalah tabu atau dilarang. Dan karena itulah muncul Sungai Cipamali atau Sungai Pamali sebagai perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Hariang Banga yang pindah ke timur menjadi Jaka Susuruh dan mendirikan kerajaan Jawa yang merupakan cikal bakal Majapahit yang terkenal. Sedangkan Ciung Wanara menjadi raja Sunda di Kerajaan Galuh. Sekarang sudah tahu ya Parents cerita lengkap tentang dongeng Ciung Wanara sejarah Sunda yang melegenda. Ternyata memang harus mengajarkan pada anak untuk selalu berbuat baik dan jangan lemah karena kekuasaan. Jangan lupa untuk menceritakan legenda ini pada anak ya Parents, agar anak tahu dongeng Ciung Wanara! Baca Juga Salah Satu Cerita Rakyat Jawa Barat Terkenal, Inilah Dongeng Terbentuknya Situ Bagendit Ajarkan Pentingnya Kecerdasan kepada Anak dari Dongeng "Kambing, Beruang, dan Harimau" Dongeng Sebelum Tidur, Kumpulan Cerita Sarat Nilai Moral Untuk Anak Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.
Perhatian! materi ini diterjemahkan oleh mesin penterjemah google translate tanpa adanya post editting, sehingga ketepatan dalam terjemahan masih buruk dan perlu dikembangkan dari fitur terjemahan ini untuk pengunjung yang kesulitan memahami materi dan tidak sama sekali mengerti bahasa Sunda atau teman-teman pelajar dari luar Jawa Barat yang sedang belajar bahasa Sunda, fitur terjemahan ini bisa digunakan namun tidak 100% akurat, akan tetapi garis besarnya bisa diambil, daripada tidak mengerti mudah-mudahan admin punya waktu sehingga bisa mengoptimalkan fitur terjemahannya sendiri, dengan begitu pengunjung bisa mempelajari materi dalam bahasa Indonesia. A. PENGERTIAN MATERI DRAMA BAHASA SUNDA Terkadang istilah drama selalu tertanam dan isti adalah teater. Tapi sebenarnya kedua istilah itu mengacu pada arti yang berbeda, meskipun dalam panas saya akan mengacu pada seni pertunjukan atau seni pertunjukan pertunjukan. Istilah drama, aslinya dari bahasa Yunani, dramoi, berarti niru-niru. Jadi lagi-lagi teater, berasal dari bahasa yunani, teatron, artinya tempat ibadah dan terletak di tengah alun-alun arena. Ada istilah lain untuk drama, berasal dari bahasa Jawa, sandi rahasia, wara h, yang berarti pendidikan atau pendidikan. Artinya lakon adalah ajaran yang disampaikan secara samar-samar atau disalibkan rahasia Cerita drama Ari adalah suatu karya sastra yang memainkan suatu cerita atau lakon melalui dialog, dimaksudkan untuk dibawakan oleh para aktor actor dalam pementasannya. Pada awal wacana, biasanya saya menguraikan terlebih dahulu aktor-aktornya, karakternya, umurnya, dan juga menggambarkan latar belakangnya, bagaimana situasi di atas panggung, ilustrasi musik, dan lain sebagainya. Dilihat dari bentuknya, drama dapat dipasangkan menjadi bentuk yang halus dan bentuk yang ritmis. Drama adalah suatu bentuk kefasihan yang dibaca atau diucapkan dalam irama bahasa yang fasih, kadang-kadang bahkan jika itu dirancang. Contoh Dakwaan 1954, Bubat 1955, dan Jalan Lempeng oleh RAF, Cahaya Maratan Waja 1964, Tukang Polkan 1966, Ngadagoan Si Jabang 1968, dan Jalan Batu nu Ngahalangan 1987 oleh Yus Rusyana, Jste Ada drama yang disebut gending karesmen, karena dialog atau monolognya selalu dibawakan. Biasanya ditulis dalam bentuk sindiran, kawih, lagu, pupuh, pujian, dll. Mang Koko, sempat menyebut istilah dramaswara untuk gending karesmen itu. DRAMA SUNDA CIUNG WANARA KISAH DUA PATIH SAKEMBARAN, PATIH PURAWESI DAN PURAGADING, SELAIN GEREJA, BAWANA HAYAM SAHIJI, RAPAT DI KOTAK DAN CIUNG WANARA Ciung Wanara “Mau kemana paman, bertaruh kalian berdua berenang?”Duke “Apakah kamu berani mengatakan paman? Kapan aing patatih? ”Ciung Wanara “Disebut tidak berguna dengan sukarela. Namanya paman mumul. ”Duke “Apakah Anda punya anak?”Ciung Wanara “Anak Ayah.”Duke “Siapa ayahmu lagi?”Ciung Wanara “Suami ibu.”Duke “Siapa ibumu?”Ciung Wanara “Kapan istri Ayah.” PATIH DUAAN SALEUSEURIAN, MENDENGARKAN KATA-KATA CIUNG WANARA KEMUDIAN MENUTUP AYAM. Duke “Di mana Anda membawa ayam, mana yang terbaik?”Ciung Wanara “Sayangnya keturunan, berasal dari ibu ayah, berasal dari telur.”Patih “Saya malas dan saya punya perjanjian jamak, Bu!”Ciung Wanara “Baiklah, ekornya.”Patih “Ash.”Ciung Wanara “Ih, abong-abong mah songong.” PATIH MENGUNDANG AYAM KELUHAN SAAT MEMBEBASKAN AYAM DARI KISA. CIUNG WANARA JUGA Lepaskan AYAMNYA. GER BAÉ DIADU. KISAH AYAM MATI. KEDUA KEMATIAN ITU MERAH. CIUNG WANARA Hilang, MENINGGALKAN TEMPAT ITU. Patih Purawesi “Duh Rai, dibunuh, ayam kita mati, anak Puragading “Maaf, penilaian anak tidak terlihat. DUA KEMATIAN LALU ARINDIT MENINGGALKAN TEMPATNYA UNTUK DATANG. KACARITAKEUN LENGSENG DAN CIUNG WANARA Ciung Wanara “Mau pergi kemana, Uwa?Lengser “Mau ke Paseban ikut Uwa?”Ciung Wanara “Waduk tidak familiar.”Slide “Tidak biasa dengan saya.”Ciung Wanara “Ya, saya tidak tahu, saya akan segera bertemu dengan Anda.” LENGTHEN PERGI KE PASABAN, DIIKUTI CIUNG WANARA. CERITA HINGGA PENYEBABNYA. Lengser “Wow, dari mana asalmu?”Ciung Wanara “Saat reruntuhan dari desa, Uwa adalah sayanama Ciung Wanara, putra Nini Balangantrang – Aki Balangantrang. “Lengser “Terima kasih banyak bos, saya mengerti Uwa.”Ciung Wanara “Siapa rumah Uwa?”Lengser “Ih, Asep, ini bukan pekerjaanku.”Ciung Wanara “Apa hari-hari suku bermata empat?”Slope “Kursi gading bertabur berlian.”Ciung Wanara “Perangkat apa?”Lengser “Perangkat duduk di atas raja.”Ciung Wanara “Bagaimana jika saya bertanya?”Slide “Jangan kasus doraka.” CIUNG WANARA TIDAK MENGGANGGU SPEAKER TERSESAT. GEK WAI CIUNG WANARA DUDUK DI KURSI. TAPI KURSI YANG DUDUK DIHANCUR, KARENA TIDAK KUAT DENGAN BERAT WANARA BERAT. TINJAU PANJANG. Slide “Oh, Agan, terbunuh, tentu saja kita dirugikan, tersedot oleh itupunya! “ CIUNG WANARA HILANG DARI SEUSEURIAN, MANI NGAGAKGAK. Ciung Wanara “Alat apa itu?”Lengser “Tempat tidur, terkadang digunakan oleh tempat tidur raja.” CIUNG WANARA LANJUTKAN SAMPAI DENGAN BED BED. TAPI SEKARANG SAYA TIDAK INGIN PERGI. KONFERENSI CIUNG WANARA DAN LENGGESERR SUDAH DI GEREJA SEBELUM RATU GALUH. Ratu Galuh “Dimana kita?”Ciung Wanara “Saya Geger Sunten.”Ratu Galuh “Siapa namanya?”Ciung Wanara “Saya Ciung Wanara.”Ratu Galuh “Untuk apa kamu datang ke sini?”Ciung Wanara “Sineja ingin menawarkan lubang ayam, tapi dengan yang lebih buruk.”Ratu Galuh “Mana ayamnya?” AYAM DIPERLIHATKAN KE RATU GALUH. RATU GALUH MARIOS HAYAM ADUNA CIUNG WANARA. Ratu Galuh “Dari mana ayam ini berasal?”Ciung Wanara “Ya, ya Tuhan, ayam-ayam saya adalah keturunan sayangnya, ibu dari bapak, bapak ayam, melahirkan setahun, sayang harus kanagan.”Ratu Galuh “Payung ayam adalah taruhan yang bagus.” KETIKA DEWI PANGRENYEP INGIN PERGI. Dewi Pangrenyep “Hai Lengser, ingatlah selalu nanang Naganingrum, bahasa untuk saat ini. Hari ini yang disingkirkan kembali ke depan Ratu. Saya lebih takut. “Lengser “Dipotong untuk bekerja takut, karena ini punya ibu. Sekarang saya langsung dengan deskripsinya. “Dewi Pangrenyep “Kalau begitu Lengser, saya pikir dulu.” RATU TERIMA KASIH UNTUK CIUNG WANARA Ciung Wanara “Saya tidak membantu tumpang tindih, hanya ingin memperpanjang umur.”Ratu Galuh “Akan lebih baik bagiku untuk tetap di masa tuaku, bahayanya adalah dari negeri pedang.”Ciung Wanara “Tolong jangan heboh siang, malam akan menemanimu.”Ratu Galuh “Ayo berkemas!” berat kedua penguasa. “ AYAM DIBAWAH. ITU TIDAK ADA YANG SALAH. WANI SARUA DAÉKNA. AYAM PRAK BAE ABAR. SILIHPACOK KU PAMATUK. SILIHGITIK KU JANGJANGNA. SILIHPEUPEUH KU SUKUNA. AYAM YANG SAMA BERBEDA. PANJANG HAYAM CIUNG WANARA KADÉSÉH. AYAM ADALAH SEBUAH KEMATIAN. AYAM SELESAI. LALU AYAM DIBAWAH LAGI. JADI NAGA WIRU DATANG DARI GUNUNG PADANG MENCARI AYAM CIUNG WANARA. AKHIRNYA AYAM CIUNG WANARA DAPAT MEMBUNUH AYAM ARIA BANGA. Diperbarui dari Literary Explorers, 71-78 Siapa nama kedua penguasa itu?Apa alasan kedua penguasa itu bertaruh seolah-olah sedang marah ketika ditanya oleh Ciung Wanara?Minta salah satu dari dua penguasa itu ke Ciung Wanara?Siapakah nama orang tua Ciung Wanara?Apa jawaban Ciung Wanara saat kedua penguasa itu bertanya tentang ayamnya?Mengapa Ciung Wanara enggan berbicara dengan Ki Lengser?Bolehkah Ki Lengser ketika Ciung Wanara ingin duduk di kursi gading, apa jawaban Ki Lengser?Darimana kita berasal?Apa yang diputuskan oleh Ciung Wanara saat menunggangi seekor ayam dan Ratu Galuh?Hari apa Ratu Galuh diangkat?
Kacaturkeun di Karajaan Galuh. Anu ngaheuyeuk dayeuh waktu harita téh nya éta Prabu Barma Wijaya kusumah. Anjeunna boga permaisuri dua. Nu kahiji Déwi Naganingrum, ari nu kadua Déwi Pangrenyep. Harita duanana keur kakandungan. Barang nepi kana waktuna, Déwi Pangrenyep ngalahirkeun. Budakna lalaki kasép jeung mulus, dingaranan Hariang Banga. Tilu bulan ti harita, Déwi Naganingrum ogé ngalahirkeun, diparajian ku Déwi Pangrenyep. Orokna lalaki deuih. Tapi ku Déwi Pangrenyep diganti ku anak anjing, nepi ka saolah-olah Déwi Naganingrum téh ngalahirkeun anak anjing. Ari orok nu saéstuna diasupkeun kana kandaga dibarengan ku endog hayam sahiji, terus dipalidkeun ka walungan Citanduy. Mireungeuh kaayaan kitu, Sang Prabu kacida ambekna ka Déwi Naganingrum. Terus nitah Ki Léngsér supaya maéhan Déwi Naganingrum, lantaran dianggap geus ngawiwirang raja pédah ngalahirkeun anak anjing. Déwi Naganingrum dibawa ku Léngsér, tapi henteu dipaéhan. Ku Léngsér disélongkeun ka leuweung anu jauh ti dayeuh Galuh. Ari kandaga anu dipalidkeun téa, nyangsang dina badodon tataheunan lauk Aki jeung Nini Balangantrang. Barang Aki jeung Nini Balangantrang néang tataheunanana kacida bungahna meunang kandaga téh. Leuwih-leuwih sanggeus nyaho yén di jerona aya orok alaki anu mulus tur kasép. Gancangna budak téh dirawu dipangku, dibawa ka lemburna nya éta Lembur Geger Sunten, sarta diaku anak. Kocapkeun budak téh geus gedé. Tapi masih kénéh can dingaranan. Hiji poé budak téh milu ka leuweung jeung Aki Balangantrang. Nénjo manuk nu alus rupana, nanyakeun ka Aki Balangantrang ngaranna éta manuk. Dijawab ku Aki éta téh ngaranna manuk ciung. Tuluy nénjo monyét. Nanyakeun deui ngaranna. Dijawab deui ku Si Aki, éta téh ngaranna wanara. Budak téh resepeun kana éta ngaran, tuluy baé ménta supaya manéhna dingaranan Ciung Wanara. Aki jeung Nini Balangantrang satuju. Ayeuna Ciung Wanara geus jadi pamuda anu kasép sarta gagah pilih tanding. Ari endogna téa, disileungleuman ku Nagawiru ti Gunung Padang, nepi ka megarna. Ayeuna geus jadi hayam jago anu alus tur pikalucueun. Dina hiji poé, Ciung Wanara amitan ka Aki jeung Nini Balangantrang, sabab rék nepungan raja di Galuh. Inditna bari ngélék hayam jago téa. Barang nepi ka alun-alun amprok jeung Patih Purawesi katut Patih Puragading. Nénjo Ciung Wanara mawa hayam jago, éta dua patih ngajak ngadu hayam. Ku Ciung Wanara dilayanan. Pruk baé hayam téh diadukeun. Hayam patih éléh nepi ka paéhna. Patih dua ngambek, barang rék ngarontok, Ciung Wanara ngaleungit. Dua patih buru-buru laporan ka raja. Ari Ciung Wanara papanggih jeung Léngsér. Terus milu ka karaton. Nepi ka karaton, Ciung Wanara ngajak ngadu hayam ka raja. Duanana maké tandon. Lamun hayam Ciung Wanara éléh, tandonna nyawa Ciung Wanara. Sabalikna lamun hayam raja nu éléh, tandonna nagara sabeulah, sarta Ciung Wanara baris dijenengkeun raja tur diaku anak. Gapruk baé atuh hayam téh diadukeun. Lila-lila hayam Ciung Wanara téh kadéséh, terus kapaéhan. Ku Ciung Wanara dibawa ka sisi Cibarani, dimandian nepi ka élingna. Gapruk diadukeun deui. Keur kitu datang Nagawiru ti Gunung Padang, nyurup kana hayam Ciung Wanara. Sanggeus kasurupan Nagawiru, hayam Ciung Wanara unggul. Hayam raja éléh nepi ka paéhna. Luyu jeung jangjina Ciung Wanara dibéré nagara sabeulah, beulah kulon. Dijenengkeun raja sarta diaku anak ku Prabu Barma Wijaya Kusumah. Ari nagara anu sabeulah deui, beulah wétan dibikeun ka Hariang Banga. Ku kabinékasan Ki Léngsér, Ciung Wanara bisa patepung deui jeung indungna nya éta Déwi Naganingrum. Lila-lila réka perdaya Déwi Pangrenyep téh kanyahoan ku Ciung Wanara. Saterusna atuh Déwi Pangrenyep téh ditangkep sarta dipanjarakeun dina panjara beusi. Hariang Banga kacida ambekna basa nyahoeun yén indungna geus dipanjara ku Ciung Wanara. Der atuh tarung. Taya nu éléh sabab sarua saktina. Tapi lila-lila mah Hariang Banga téh kadéséh ku Ciung Wanara. Hariang Banga dibalangkeun ka wétaneun Cipamali. Tah, harita kaayaan Galuh jadi dua bagian téh. Kuloneun Cipamali dicangking ku Ciung Wanara. Ari wétaneunana dicangking ku Hariang Banga. Tina Pangajaran Sastra Sunda, karya Drs. Budi Rahayu Tamsyah Kantos dimuat di lapak
Dongeng Bahasa Sunda CIUNG WANARAKacaturkeun di Karajaan Galuh. Anu ngaheuyeuk dayeuh waktu harita teh nyaeta Prabu Barma Wijaya gaduh permaisuri hiji Dewi Naga Ningrum anu ka dua Dewi Pangrenyep. Harita duanana keur kakandungan. Barang nepi kana waktosna, Dewi Pangrenyep ngalahirkeun budak lalaki kasep jeung mulus, dingaranan Hariang Banga. Tilu bulan tiharita Dewi Naga Ningrum ogé ngalahirkeun, diparajian ku Dewi Pangrenyep, orokna lalaki deuih. Tapi ku Dewi Pangrenyep diganti ku anak anjing, nepi kasaolah-olah Dewi Naga Ningrum téh ngalahirkeun anak anjing. Ari orok nu saestuna diasupkeun kana kandaga dibarengan ku endog hayam sahiji, terus dipalidkeun ka walungan kaayaan kitu, sang Prabu kacida ambekna ka Dewi Naga Ningrum. Terus nitah ki Lengser supaya maehan Dewi Naga Ningrum, lantaran dianggap geus ngawiwirang raja pedah ngalahirkeun anak anjing. Dewi Naga Ningrum dibawa ku Lengser, tapi heunteu dipaéhan. Ku Lengser diselongkeun ka leuweung nu jauh ti Dayeuh kandaga anu dipalidkeun téa, nyangsang dina badodon tataheunan lauk aki jeung nini Balangantrang. Barang aki jeung nini Balangantrang neang tataheunana, kacida bungahna meunang kandaga téh. Leuwih – leuwih sanggeus nyaho yén dijerona aya orok lalaki anu mulus tur kasep. Gancang budak téh dirawu dipangku, dibawa kalemburna nyaeta lembur Geger Sunten sarta diaku budak téh geus gede. Tapi masih keneh can dingaranan. Hiji poé budak téh milu ka leuweung jeung Aki balangantrang. Nénjo manuk nu alus rupana. Nanyakeun ka aki Balangantrang. “Aki ari itu sato naon?” “Eta téh ngarana manuk Ciung Jang”.Tuluy budak téh nénjo monyet. “Ari nu itu naon aki”? Dijawab deui ku si aki. “Eta téh ngarana Wanara”. Budak téh resepeun kana éta ngaran, tuluy baé ménta supaya manehna dingaranan Ciung Wanara. “Mun kitu mah ngaran kuring teh Ciung Wanara bae atuh Ki !”. Aki jeung nini Balangantrang Ciung Wanara geus jadi nu kasep sarta gagah pilih tanding. Ari endogna téa disileungleuman ku Naga Wiru ti Gunung Padang, nepi ka megarna. Ayeuna geus jadi hayam jago anu alus tur hiji poé, Ciung Wanara amitan ka aki jeung nini Balangantrang sabab rék nepungan raja di Galuh. Inditna bari ngelek hayam jago téa. Barang nepi ka alun-alun amprok jeung Patih Pura Wesi katut Patih Pura Gading. Nénjo Ciung Wanara mawa hayam jago, éta dua patih ngajak ngadu hayam. Ku Ciung Wanara dilayanan prung waé hayam téh diadukeun. Hayam patih éléh nepi ka paéhna. Patih dua ngambek, barang rék ngarontok, Ciung Wanara ngaleungit. Dua patih buru-buru laporan ka Ciung Wanara papanggih jeung Lengser. Terus milu ka karaton. Nepi ka karaton, Ciung Wanara ngajak ngadu hayam ka raja. Duanana make tandon. Lamun hayam Ciung Wanara éléh tandona nyawa Ciung Wanara. Sabalikna lamun raja nu éléh tandona nagara sabeulah, sarta Ciung Wanara baris dijenengkeun jadi raja tur diaku baé hayam téh diadukeun. Lila-lila hayam Ciung Wanara téh kadeseh, terus kapaehan. Ku Ciung Wanara dibawa ka sisi cibarani, dimandian nepi ka elingna. Gapruk diadukeun deui. Keur kitu dating naga wiru ti gunung padang, nyurup kana hayam Ciung Wanara. Sanggeus kasurupan naga wiru, hayam Ciung Wanara unggul, hayam raja éléh nepi ka jeung jangjina, Ciung Wanara dibéré nagara sabeulah, beulah kulon. Dijenengkeun raja sarta diaku anak ku Prabu Barma Wijaya Kusumah, ari nagara nu sabeulah deui, beulah wetan, dibikeun ka Hariang kabinekasan ki lengser, Ciung Wanara bisa patepung deui jeung indungna nyaéta Dewi Naga Ningrum. Lila-lila réka perdaya Dewi Pangrenyep téh kanyahoan ku Ciung Wanara. Saterusna atuh Dewi Pangrenyep téh ditangkep sarta dipanjarakeun dina panjara Banga kacida ambekna basa nyahoeun indungna geus dipanjara ku Ciung Wanara. Dee….r atuh tarung. Taya nu éléh sabab sarua saktina. Tapi lila-lila Hariang Banga téh kadeseh ku Ciung Wanara. Hariang Banga dibalangkeun ka wetaneun Cipamali. Tah tiharita kaayaan Galuh jadi dua bagian téh. Kuloneun Cipamali dicangking ku Ciung Wanara. Ari wetaneunana dicangking ku Hariang Banga.
cerita ciung wanara dalam bahasa sunda