rangkuman islamisasi dan silang budaya di nusantara

Islamdatang dan berkembang pesat di nusantara karena beberapa faktor salah satunya adalah ajaran Islam paling relevan dengan kehidupan sehingga mudah diterima. Baca juga: 50 Soal US Sejarah Indonesia + Kunci Posisi Indonesia yang berada di tengah-tengah poros maritim dunia membuat berbagai agama tak terkecuali Islam bisa sampai ke nusantara. Islamisasidan Silang Budaya di Nusantara Materi didownload dari situs Kerajaan Sriwijaya mengalami kelemahan bahkan runtuh sekitar abad ke-14, mulailah proses Islamisasi sehingga pada akhir abad ke-15 muncul komunitas Muslim di Palembang. f. Kerajaan Islam di Sumatra Barat TeoriPersia lebih menitikberatkan tinjauannya pada aspek kebudayaan yang hidup di kalangan masyarakat Islam Indonesia yang dianggap mempunyai persamaan dengan Persia, di antaranya: • Adanya peringatan 10 Muharram atau 'Asyura atas meninggalnya Hasan dan Husein cucu Nabi Muhammad SAW, yang sangat dijunjung oleh kaum muslim Syiah di Iran islamisasidan silang budaya nusantara Disukai 3 Diunduh 999 Dilihat 1210. daring. Penulis: LISWARNI : Diterbitkan: 18 Juni 2020 12:57 pada masa darurat pandemi covid 19 dengan menggunakan watssaap atau massengger group yang sudah dibuat oleh sekolah dengan topik islamisasi dan silang budaya di nusantara {{ statusLike }} KesultananTernate atau juga dikenal dengan Kerajaan Gapi adalah salah satu dari 4 kerajaan Islam di Kepulauan Maluku dan merupakan salah satu kerajaan Islam tertua di Nusantara. Didirikan oleh Baab Mashur Malamo pada tahun 1257. Kesultanan Ternate memiliki peran penting di kawasan timur Nusantara antara abad ke-13 hingga abad ke-17. Site De Rencontre Totalement Gratuit Pour Homme Et Femme. Hari ini kita akan membahas mengenai bagaimana Islam datang ke Indonesia yang awalnya hanya di daerah pesisir kemudian masuk kepedalaman. Islam kemudian mampu berkembang pesat di Indonesia hingga muncullah Kerajaan Kerajaan yang bercorak Islam menggantikan Kerajaan Kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha yang telah berkembang sebelumnya. Jika ditarik benang merahnya, terdapat beberapa jalur dalam proses masuknya Islam ke Indonesia, di antaranya sebagai berikut Jalur Darat; Para pedagang Islam melintasi jazirah Arab dan menjelajah daerah Barat ke Gurun Sahara dan Afrika Tengah, sedangkan jalan Timur melalui Bashra, Bagdad, Damaskus, Samarkand, Bukhara, dan kota-kota di Asia Tengah terus ke daratan Cina. Jalur ini disebut jalan sutra karena pada saat itu yang menjadi komoditas utama dalam kegiatan perdagangan adalah berupa sutra, terutama yang berasal dari Cina. Jalur Laut; Perdagangan yang dilakukan melalui jazirah Arab, India, dan Asia Tenggara yang dilakukan melalui jalur laut berpengaruh terhadap perkembangan Islam di Indonesia. Pada saat itu sudah berkembang pelabuhan-pelabuhan laut yang ada di kawasan Asia seperti Muskat di jazirah Arab, Basra di Teluk Parsi, Cambay Gujarat, Chittagong di Teluk Benggala, Pasai di Pulau Sumatra dan daerah Malaka yang menjadi pusat penyebaran agama Islam di Indonesia, Malaysia, dan Filipina. KEDATANGAN ISLAM DI INDONESIA Mengenai kapan islam masuk Indonesia terdapat beberapa pendapat yakni abad ke-7, abad ke-11 dan abad ke-13. Islam masuk Indonesia abad ke-7. Pendapat menyatakan bahwa Islam sampai ke Indonesia pada abad ke-7 antara lain dikemukakan oleh Hamka, Harry W Hazard, Arnold dan dalam seminar masuknya islam di Indonesia yang dilaksanakan di Aceh. Pendapat tentang masuknya Islam pada abad ke-7 didasarkan pada adanya kunjungan utusan dari Arab di Kerajaan Holing/Kalingga . Islam masuk Indonesia abad ke-11. Dasar dari pendapat ini adalah ditemukannya Makam Fatimah binti Maimun di leran Gresik. Islam masuk Indonesia abad ke-13. Adapun pendukung dari pendapat ini adalah Catatan perjalanan Marcopolo, Moquette, Kern, Snouck Hurgronje, N,J Krom, Schiereke. Dalam catatan Marcopolo pernah berkunjung ke kerajaan Peurlak di Aceh pada tahun 1292 M. Selain itu juga muncul beberapa pendapat mengenai pembawa agama Islam ke Indonesia. Teori Gujarat. Peyebar agama islam ke Indonesia menurut Pijnapel bukanlah dari orang Arab langsung, melainkan para pedagang Gujarat yang telah memeluk Islam dan berdagang ke dunia Timur. didukung oleh C. Snouck Hurgronye, dan Moquetta 1912. Argumentasinya didasarkan pada batu nisan Sultan Malik Al-Saleh yang wafat pada 17 Dzulhijjah 831 H atau 1297 M di Pasai, Aceh. Menurutnya, batu nisan di Pasai dan makam Maulana Malik Ibrahim yang wafat tahun 1419 di Gresik, Jawa Timur, memiliki bentuk yang sama dengan batu nisan yang terdapat di Kambay, Gujarat. Moquetta kemudian berkesimpulan bahwa batu nisan tersebut diimpor dari Gujarat, atau setidaknya dibuat oleh orang Gujarat atau orang Indonesia yang telah belajar kaligrafi khas Gujarat. Teori Persia. Hoesein Djajadiningrat mengatakan bahwa Islam yang masuk ke Indonesia berasal Persia Iran sekarang. Pendapatnya didasarkan pada kesamaan budaya dan tradisi yang berkembang antara masyarakat Parsi dan Indonesia. Tradisi tersebut antara lain tradisi merayakan 10 Muharram atau Asyuro sebagai hari suci kaum Syiah atas kematian Husein bin Ali Teori Arab. Buya Hamka Haji Abdul Malik Karim Amrullah mengatakan bahwa Islam berasal dari tanah kelahirannya, yaitu Arab atau Mesir. Proses ini berlangsung pada abadabad pertama Hijriah atau abad ke-7 M. Senada dengan pendapat Hamka, teori yang mengatakan bahwa Islam berasal dari Mekkah dikemukakan Anthony H. Johns. Menurutnya, proses Islamisasi dilakukan oleh para musafir kaum pengembara yang datang ke Kepulauan Indonesia. Teori Cina. Teori Cina diungkapkan oleh Sumanto Al Qurtuby dalam bukunya Arus Cina-Islam-Jawa menyatakan, menurut kronik masa Dinasti Tang 618-960 di daerah Kanton, Zhang-zhao, Quanzhou, dan pesisir Cina bagian selatan, telah terdapat sejumlah pemukiman Islam. Dasar lainnya adalah raja Islam pertama di Jawa, yakni Raden Patah dari Bintoro Demak, merupakan keturunan Cina. Ibunya disebutkan berasal dari Campa, Cina bagian selatan sekarang termasuk Vietnam. Bukti-bukti lainnya adalah masjid-masjid tua yang bernilai arsitektur Tiongkok yang didirikan oleh komunitas Cina di berbagai tempat, terutama di Pulau Jawa. Pelabuhan penting sepanjang pada abad ke-15 seperti Gresik, misalnya, menurut catatan-catatan Cina, diduduki pertama-tama oleh para pelaut dan pedagang Cina Semua teori di atas masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan tersendiri. Tidak ada kemutlakan dan kepastian yang jelas dalam masing-masing teori tersebut. Meminjam istilah Azyumardi Azra, sesungguhnya kedatangan Islam ke Indonesia datang dalam kompleksitas; artinya tidak berasal dari satu tempat, peran kelompok tunggal, dan tidak dalam waktu yang bersamaan. Berbagai saluran dalam menyebarkan agama Islam yaitu Saluran masuknya Islam melalui perdagangan yakni terjadi kontak perdagangan antara pedagang yang beragama Islam dengan penduduk di sekitar pantai. Islam pada awalnya tumbuh di daerah pesisir. Pedagang Islam yang tinggal di daerah pesisir kemudian melakukan pernikahan dengan penduduk pribumi. Perlu kita ingat bahwa pada saat itu perahu menggunakan angin muson yang bertiup berkala selama 6 bulan. Sehingga muncullah perkampungan perkampungan orang Arab atau disebut Pekojan. Salah satu saluran masuknya Islam ke Indonesia adalah melalui pernikahan. Paling menguntungkan adalah ketika seorang pemeluk agama Islam kemudian menikah dengan rajan atau bangsawan. Sebagai contoh adalah perkawinan antara Raja Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit menikah dengan Putri Campa yang kemudian menghasilkan keturunan yang bernama Raden Patah pendiri Kerajaan Islam Demak. Di Jawa terdapat ahli dakwah yang terkenal dengan sebutan Wali Songo yaitu 1 Sunan Gresik, 2 Sunan Ampel, 3 Sunan Giri, 4 Sunan Gunung Jari, 5 Sunan Kudus, 6 Kudus, 7 Sunan Drajad, 8 Sunan Kalijaga, dan 9 Sunan Muria. Penyebar agama Islam di Kalimantan yakni Tuan Haji Bandang dan Tuan Haji Tunggangparangan. Penyebar agama islam di Makasar bernama Datuk Ri Bandang. Sedangkan Datuk Sulaeman yang menyebarkan agama Islam di daerah Sulawesi islamisasi ini. Para ulama mendirikan pondok-pondok pesantren pesantrian yang terbuka bagi siapa pun untuk belajar menjadi santri. Setelah selesai belajar di pesantren, mereka kembali ke daerah asal dan berdakwah mengajarkan Islam atau disuruh guru mereka menyiarkan Islam di daerah lain. Kaum ulama yang mendirikan pesantren antara lain Raden Rahmat di Ampel, dekat Surabaya dan Raden Paku di Giri. Beberapa lulusan Sunan Giri diundang ke Maluku untuk mengajarkan Islam di sana. Tasawuf adalah ajaran untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kesenian Islam berkembang pesat di Indonesia pada awalnya berkembang di daerah pesisir pantai. Daerah ini lah yang bersentuhan langsung dengan aktivitas perdagangan. Berbagai faktor mendorong agama Islam berkembang pesat di Indonesia antara lain Syarat masuk Islam mudah yakni tinggal membaca kalimat syahadat Agama Islam tidak mengenal kasta Penyebaran agama Islam dilakukan dengan cara damai Terdapat penyesuaian budaya yang sudah ada dengan ajaran agama Islam Faktor politis yakni runtuhnya Kerajaan Majapahit Setiap muslim mempunyai kewajiban untuk menyiarkan agama islam Salah satu penyebar agama Islam terkenal di Pulau Jawa adalah Walisongo. Walisongo sangat dihormati serta dimuliakan oleh orang-orang, terutama di pulau Jawa, bahkan para walisongo itu diberi gelar Sunan atau Susuhunan artinya yang dijunjung tinggi atau gelar yang tinggi dan mulia Maulana Malik Ibrahim atau Makdum Ibrahim atau Sunan Gresik menyebarkan agama Islam di daerah Gresik dan sekitarnya Sunan Ampel nama aslinya Raden Rahmat menyebarkan agama Islam di daerah Ampeldenta sekitar Surabaya Sunan Bonang atau Makhdum Ibrahim merupakan anak dari Sunan Ampel yang menyebarkan agama Islam di daerah Lasem, Tuban Sunan Derajat nama sebenarnya adalah Masih Munat, putra dari Sunan Ampel menyebarkan agama Islam didaerah Sedayu Gresik Jawa Timur Sunan Giri atau Raden Paku. Ia adalah putra dari Maulana Ishak menyebarkan agama Islam di daerah Giri Jawa Timur. Sunan Giri diangkat menjadi penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Banyak mubalig dari pesantren Giri yang dikirim ke Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Maluku. Sunan Kalijaga atau Raden Jaka Said menyebarkan agama Islam di daerah Kadilangu Demak Jawa Tengah. Sunan Kudus atau Jafar Sadiq. Ia adalah salah seorang panglima tentara dan menyebarkan agama Islam di daerah Demak, Jawa Tengah. Sunan Muria atau Raden Prawoto atau Raden Umar Said, adalah putra Sunan Kalijaga dari istrinya yang bernama Dewi Sorah yang menyebarkan agama Islam didaerah pegunungan Muria Jawa Tengah. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah lebih dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati karena pusat kegiatan dakwahnya berada di daerah Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat KERAJAAN KERAJAAN ISLAM DI INDONESIA Berbagai kerajaan yang bercorak Islam muncul di Indonesia menggantikan Kerajaan kerajaan Hindu-Budha. Kerajaan di Indonesia yang bercorak Islam antara lain Kerajaan bercorak Islam di Pulau Sumatera Kerajaan Perlak, Kerajaan Samudera Pasai, Kesultanan Aceh Darussalam, Kerajaan Kampar, Kerajaan Indragiri, Kerajaan Siak, Kerajaan Islam di Jambi, Kesultanan Palembang. Kerajaan bercorak Islam di Pulau Jawa Kerajaan Demak, Kerajaan Pajang, Kerajaan Mataram Islam, Kesultanan Banten, Kesultanan Cirebon. Kerajaan bercorak Islam di Pulau Kalimantan Kerajaan Pontianak, Kerajaan Banjar, Kerajaan bercorak Islam di Pulau Sulawesi Kerajaan Gowa – Tallo Makasar, Kerajaan Wajo, dan Kerajaan Bone. Kerajaan bercorak Islam di Nusa Tenggara Kerajaan Sumbwa dan Lombok, Kerajaan Bima Kerajaan bercorak Islam di Pulau Maluku Kerajaan Ternate, Kerajaan Tidore, dll Kerajaan bercorak Islam di Pulau Papua 1 Kerajaan Waigeo 2 Kerajaan Misool 3 Kerajaan Salawati 4 Kerajaan Sailolof 5 Kerajaan Fatagar 6 Kerajaan Rumbati terdiri dari Kerajaan Atiati, Sekar, Patipi, Arguni, dan Wertuar 7 Kerajaan Kowiai Namatota 8. Kerajaan Aiduma 9 Kerajaan Kaimana. AKULTURASI DAN PERKEMBANGAN BUDAYA ISLAM Bangunan Masjid Ada beberapa ciri yang menarik untuk dicermati dari bangunan masjid tradisional, seperti Masjid memiliki denah bujur sangakar. Pada sisi Barat terdapat bangunan yang menjorok sebagai ’mihrab’. Pada bagian depan masjid, terdapat serambi. Masjid-masjid yang besar, di samping memiliki serambi depan juga memiliki serambi samping pada sisi kanan dan kiri masjid. Sebagian besar masjid beratap tumpang, semakin ke atas semakin kecil dan bagian teratas biasanya berbentuk limas. Di dalam masjid terdapat barisan yang mengelilingi empat tiang induk. Di bagian depan kiri atau kanan terdapat menara sebagai tempat untuk menyerukan panggilan sholat adzan. Masjid biasanya terletak di tengah-tengah kota atau dekat dengan istana. Di depan masjid biasanya terdapat alun-alun Makam Makam merupakan tempat di mana seseorang yang telah meninggal dunia dikebumikan. Menurut ajaran Islam, sebelum dikebumikan diadakan upcara jenazah. Pada hari yang ke 100, makan boleh dibangun secara permanen yang terdiri dari kijing jirat, batu nisan, dan cungkup. Kijing atau jirat adalah bangunan berbentuk empat persegi panjang yang terbuat dari batu atau tembok yang membujur ke arah Utara – Selatan. Batu nisan adalah tonggak pendek yang terbuat dari batu atau sekarang ada terbuat dari kayu atau beton yang ditanam di atas kundukan tanah sebagai tanda kubur dan biasanya ditanam di ujung Utara dan Selatan dari kijing. Cungkup adalah bangunan kecil seperti rumah yang berfungsi untuk menutup kijing. Contoh makam kuno yang bercorak Islam adalah makan Fatimah binti Maimun dan makan Maulana Malik Ibrahim di Gresik, makam Sultan Malik As-Saleh di Pasai, makam Raden Patah di Demak, makam Sunan Gunung Jati di Cirebon, dan sebagainya. Sedangkan para raja biasanya dimakamkan di daerah perbukitan seperti kompleks makam Sunan Giri, Sunan Drajat, Sunan Muria, kompleks makam raja-raja Mataram di Imogiri, kompleks raja-raja Cirebon di Gunung Sembung, dan sebagainya. Kaligrafi Kaligrafi merupakan seni melukis yang sangat indah. Kaligrafi adalah seni menulis dengan huruf Arab yang dipahatkan pada batu, kayu, atau kertas. Seni kaligrafi memiliki pola yang beragam, seperti pola daun-daunan, bunga-bungaan, perbukitan, pemandangan, atau sekedar garis-garis geometris. Kraton Pada dasarnya, kraton adalah tempat untuk melaksanakan berbagai kegiatan penting yang berkaitan urusan administrasi kerajaan. Kraton juga berfungsi sebagai tempat tinggal raja atau sultan beserta keluarganya. Kraton merupakan lambang pusat pemerintahan. Beberapa kraton yang bercorak Islam adalah Kraton Kesultanan Aceh, Kraton Demak, Kraton Kasepuhan dan Kanoman di Cirebon, Kraton Banten, Kraton Yogyakarta, Kraton Surakarta, dan lain sebagainya. Seni Sastra Peninggalan Islam Peninggalan Islam di bidang seni sastra sangat kaya dan beragam. Secara garis besar, peninggalan itu dapat dikelompok menjadi empat jenis, yaitu hikayat, syair, babad, dan suluk. Hikayat adalah karya sastra yang berisi ceritera tentang kehidupan manusia. Pada dasarnya, hikayat mengandung nilai untuk membangkitkan semangat hidup manusia, meskipun ada beberapa hikayat yang menceriterakan tentang kesedihan. Misalnya, Hikayat Hang Tuah, Hikayat Amir Hamzah. Babad adalah karya sastra yang berisi ceritera berlatar belakang sejarah. Babad merupakan ceritera semata karena kurang didukung dengan bukti-bukti atau fakta-fakta seperti halnya sejarah. Misalnya, Babad Tanah Jawi, Babad Kadhiri, Babad Caruban, Babad Giyanti Syair adalah puisi lama, di mana tiap-tiap bait terdiri dari empat baris dan diakhiri dengan bunyi yang sama. Misalnya, Syair Abdul Muluk, Gurimdam Dua Belas. Suluk adalah kitab-kitab yang menceriterakan tentang tasawuf. Suluk merupakan kitab peninggalan Islam yang tertua di Nusantara. Misalnya, Suluk Malang Sumirang, Suluk Sukarsa, Suluk Wujil. Seni Pertunjukan Seni pertunjukan memiliki beberapa macam bentuk, di antaranya tarian, musik, atau lakon-lakon tertentu semacam wayang. Wayang Kulit. Wayang kulit digunakan oleh Sunan Kalijaga untuk menarik minat masyarakat agar memeluk agama Islam. Sunan Kalijaga menampilkan lakon-lakon wayang Hindu yang dalam pertunjukannya, diubah bergaya Islam dengan muatan dakwah. Pada beberapa peringatan hari-hari besar Islam di Jawa Tengah, gamelan biasa digunakan hingga kini. Dulu, gamelan digunakan untuk menarik perhatian orang-orang agar berkumpul. Setelah itu, mereka diberikan ceramah yang berisi ajaran Islam. Ada beberapa tarian yang bercorak Islam. Salah satu contohnya adalah Tari Seudati yang dimainkan sambil bersenandung salawat atas Nabi Muhammad SAW. Kalender Pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo salah satu peninggalannya adalah kalender yang mengalami akulturasi dengan kalender Islam dan Jawa. Sultan Agung melakukan sedikit perubahan, mengenai nama-nama bulan pada tahun Saka. Misalnya bulan Muharam diganti dengan Sura dan Ramadan diganti dengan Pasa. Kalender tersebut dimulai tanggal 1 Muharam tahun 1043 H. Kalender Sultan Agung dimulai tepat dengan tanggal 1 Sura tahun 1555 Jawa 8 Agustus 1633. About The Author doni setyawan Mari berlomba lomba dalam kebaikan. Semoga isi dari blog ini membawa manfaat bagi para pengunjung blog. Terimakasih Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Perkembangan Islam di Nusantara tidak pernah terlepas dari dinamika Islam di kawasan-kawasan lain. Karena itu adalah keliru pandangan yang menganggap seolah-olah Islam Nusantara berkembang secara tersendiri serta terisolasi dari perkembangan dan dinamika Islam di tempat-tempat Islam Nusantara juga menampilkan ciri-ciri dan karakter yang khas,relatif berbeda dengan peradaban Islam di wilayah-wilayah peradaban Muslim lainnya,misalnya Arab,Turki,Persia,Afrika Hitam,dan Dunia Barat. Islam yang datang pertama kali adalah Islam yang umumnya dibawa para guru pengembara Sufi,yang mengembara dari satu tempat ke tempat lain untuk menyebarkan sufistik yang dibawa para guru pengembara ini jelas memiliki kecenderungan kuat untuk lebih menerima terhadap tradisi dan praktik keagamaan guru-guru Sufi pengembara ini,yang paling penting adalah pengucapan dua kalimah syahadat setelah itu barulah menperkenalkan ketentuan-ketentuan hukum Islam. Baca juga Makam Bathara Katong Menjadi Bukti Nyata Historis dan Islamisasi di Ponorogo Masyarakat Nusantara pada umumnya adalah masyarakat pesisir yang kehidupan mereka tergantung pada perdagangan antarpulau dan mereka yang berada di pedalaman adalah masyarakat agraris,yang kehidupan mereka tergantung kepada bidang kebudayaan,umat islam mempunyai ciri yang khusus pula dari budaya material material culture dalam kehidupan sehari-hari,sampai kepada budaya spiritual spiritual culture.Bahkan sampai sekarang kita masih bisa menyaksikan berbagai kesinambungan tertentu antara tradisi islam dengan tradisi tradisi budaya spiritual praislam yang sedikit banyak diwarnai tradisi Hindu,Buddha,dan bahkan tradisi keagamaan spiritual juga Sejarah Pangeran Lanang Dangiran Tokoh Islamisasi di SurabayaFaktor pemersatu terpenting diantara berbagai suku bangsa Nusantara adalah mengatasi perbedaan-perbedaan yang terdapat di antara berbagai suku bangsa dan menjadi identitas yang mengatsi batas-batas geografis,sentimen etnis,identitas kesukuan,adat istiadat dan tradisi lokal saja,sejauh menyangkut pemahaman dan pengalaman islam,terdapat pula perbedaan-perbedaan tertentu terhadap doktrin dan ajaran islam sesuai rumusan para ulama,bukan dengan identitas suku bangsa. Faktor pemersatu kedua,yaitu bahasa ini sebelum kedatangan Islam digunakan hanya di lingkungan etnis terbatas,yakni suku bangsa Melayu di Palembang,Riau,Deli sumatera Timur,dan semenanjung bahasa-bahasa lain yang digunakan lebih banyak orang suku bangsa lain di Nusantara,seperti bahasa jawa dan bahasa juga Makam Ki Ageng Jabung atau Sayyid Abdurrahman sebagai Napak Tilas Islamisasi di Kecamatan Jatirejo Kabupaten MojokertoBahasa Melayu yang lebih egaliter dibanding bahasa Jawa,diadopsi sebagai lingua franca oleh para penyiar islam ,ulama,dan bahasa Melayu sebagai lingua franca Islam di Nusantara bertambah kuat ketika bahasa Melayu ditulis dengan aksara dengan adopsi huruf-huruf Arab,maka dilakukan pula pengenanalan dan penyesuaian pada aksara Arab tertentu untuk kepentingan bahasa-bahasa lokal di bahasa Melayu itu menjadi semakin kuat lagi ketika para ulama menulis banyak karya mereka dengan bahasa Mekayu berhuruf Jawi tersebut sehingga pada gilirannya,tulisan Jawi menjadi alat komunikasi dan dakwah tertulis bagi masayarakat Melayu-Nusantara menggantikan beberapa bentuk tulisan yang berkembang sebelumnya. Warisan terbaik dari sejarah zaman islam lainnya ialah adanya pengintegrasian Nusantara lewat nasionalisme keagamaan dan jaringan perdagangan antarpulau. Lihat Sosbud Selengkapnya ISLAMISASI DAN SILANG BUDAYA DI NUSANTARA — KEDATANGAN ISLAM KE NUSANTARA Secara umum terdapat 3 teori besar tentang asal-usul penyebaran Islam di Indonesia, yaitu teori Gujarat, teori Mekkah dan teori Persia. — Teori Gujarat Teori berpendapat bahwa agama Islam masuk ke Indonesia pada abad 13 dan pembawanya berasal dari Gujarat Cambay, India. Dasar dari teori ini adalah 1. Kurangnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa Arab dalam penyebaran Islam di Indonesia. 2. Hubungan dagang Indonesia dengan India telah lama melalui jalur Indonesia – Cambay – Timur Tengah – Eropa. 3. Adanya batu nisan Sultan Samudra Pasai yaitu Malik Al Saleh yang bercorak khas Gujarat. — Pendukung teori Gujarat adalah Snouck Hurgronye, WF Stutterheim dan Bernard Vlekke. — Para ahli yang mendukung teori Gujarat, lebih memusatkan perhatiannya pada saat timbulnya kekuasaan politik Islam yaitu adanya kerajaan Samudra Pasai. — Hal ini juga bersumber dari keterangan Marcopolo dari Venesia Italia yang pernah singgah di Perlak Perureula tahun 1292. Ia menceritakan bahwa di Perlak sudah banyak penduduk yang memeluk Islam dan banyak pedagang Islam dari India yang menyebarkan ajaran Islam. — Teori Arab Mekkah Teori ini merupakan teori baru yang muncul sebagai sanggahan terhadap teori lama yaitu teori Gujarat. Teori Mekkah berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 7 dan pembawanya berasal dari Arab Mesir. Dasar teori ini adalah a. Pada abad ke 7 yaitu tahun 674 di pantai barat Sumatera sudah terdapat perkampungan Islam Arab, dengan pertimbangan bahwa pedagang Arab sudah mendirikan perkampungan di Kanton sejak abad ke-4. Hal ini juga sesuai dengan berita Cina. b. Kerajaan Samudra Pasai menganut aliran mazhab Syafi’i, dimana pengaruh mazhab Syafi’i terbesar pada waktu itu adalah Mesir dan Mekkah. Sedangkan Gujarat atau India adalah penganut mazhab Hanafi. c. Raja-raja Samudra Pasai menggunakan gelar Al malik, yaitu gelar tersebut berasal dari Mesir. — Pendukung teori Makkah ini adalah Hamka, Van Leur dan Arnold. Para ahli yang mendukung teori ini menyatakan bahwa abad 13 sudah berdiri kekuasaan politik Islam, jadi masuknya ke Indonesia terjadi jauh sebelumnya yaitu abad ke 7 dan yang berperan besar terhadap proses penyebarannya adalah bangsa Arab sendiri. Teori Persia — Teori ini berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia abad 13 di Sumatra dan pembawanya berasal dari Persia Iran. Dasar teori ini adalah kesamaan budaya Persia dengan budaya masyarakat Islam Indonesia seperti Peringatan 10 Muharram atau Asyura atas meninggalnya Hasan dan Husein cucu Nabi Muhammad, yang sangat di junjung oleh orang Syiah atau Islam Iran. Di Sumatra Barat peringatan tersebut disebut dengan upacara Tabuik atau Tabut. Sedangkan di pulau Jawa ditandai dengan pembuatan bubur Syuro. Kesamaan ajaran Sufi yang dianut Syekh Siti Jennar dengan sufi dari Iran yaitu Al – Hallaj. Penggunaan istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja huruf Arab untuk tanda-tanda bunyi Harakat. Proses Awal Penyebaran Islam di Indonesia Perdagangan dan Perkawinan — Dengan menunggu angin muson 6 bulan, pedagang mengadakan perkawinan dengan penduduk asli. Dari perkawinan itulah terjadi interaksi sosial yang menghantarkan Islam berkembang masyarakat Islam. — Pembentukan masyarakat Islam dari tingkat bawah’ dari rakyat lapisan bawah, kemudian berpengaruh ke kaum birokrat Van Leur. — Gerakan Dakwah, melalui dua jalur yaitu a. Ulama keliling menyebarkan agama Islam dengan pendekatan Akulturasi dan Sinkretisasi atau lambang-lambang budaya. b. Pendidikan pesantren ngasu ilmu atau perigi atau sumur, melalui lembaga atau sistem pendidikan Pondok Pesantren, Kyai sebagai pemimpin, dan santri sebagai murid. — Dari ketiga model perkembangan Islam itu, secara realitas Islam sangat diminati dan cepat berkembang di Indonesia. Meskipun demikian, intensitas pemahaman dan aktualisasi penerapan keberagaman islam bervariasi menurut kemampuan masyarakat dalam mencernanya. Sumber Sejarah Sumber Eksternal Luar Negeri a. Berita Arab diketahui dari para pedagang Arab yang melakukan aktivitasnya dalam bidang perdagangan dengan bangsa Indonesia b. Berita Eropa di bawa oleh Marcopolo italia yang menjadi orang Eropa pertama yang datang ke Indonesia. Marcopolo datang ke Indonesia kemudian dia singgah di Sumatera utara, didaerah tersebut Marcopolo menemukan adanya Kerajaan Islam pertama yaitu Samudera Pasai c. Berita india Para pedagang Gujarat dari India selain melakukan perdagangan juga menyebarkan agama Islam di pesisir pantai d. Berita Cina Ma Huan Sekretaris Laksamana Cheng Ho mengatakan bahwa pada tahun 1400 telah ada pedagang-pedagang islam yang tinggal di Pantura Sumber Internal a. Batu Nisan Fatimah Binti Maimun peninggalan batu nisan ini menjadi bukti bahwa agama islam sudah masuk ke daerah Jawa Timur b. Makam Sultan Malik As Saleh Raja Samudera Pasai di Sumatera berdasarkan peninggalan ini, dapat disimpulkan bahwa untuk pertama kalinya muncul seorang Raja beragama Islam dengan gelar “Sultan” c. Makam Syekh Maulana Malik Ibrahim di Gresik Makam tersebut didatangkan dari gujarat dan berisi tulisan-tulisan Arab Agama Islam mudah masuk ke Indonesia,karena 1. Syarat memeluk agama Islam sangat mudah mengucap 2 kalimat syahadat 2. Tata cara peribadatan islam sangat sederhana 3. Islam tidak mengenal kasta 4. Agama Islam yang masuk ke Indonesia disesuaikan dengan adat dan tradisi Bangsa Indonesia 5. Faktor politik juga ikut memperlancar proses penyebaran agama islam di Indonesia runtuhnya sriwijaya dan majapahit sebagai kerajaan besar 6. Penyebaran agama islam dengan cara damai tanpa peperangan atau kekerasan Terdapat berbagai pendapat mengenai proses masuknya Islam ke Kepulauan Indonesia, terutama perihal waktu dan tempat asalnya. Pertama, sarjana-sarjana Barat—kebanyakan dari Negeri Belanda—mengatakan bahwa Islam yang masuk ke Kepulauan Indonesia berasal dari Gujarat sekitar abad ke-13 M atau abad ke-7 H. Kedua, Hoesein Djajadiningrat mengatakan bahwa Islam yang masuk ke Indonesia berasal dari Persia Iran sekarang.Pendapatnya didasarkan pada kesamaan budaya dan tradisi yang berkembang antara masyarakat Parsi dan Indonesia. Tradisi tersebut antara lain tradisi merayakan 10 Muharram atau Asyuro sebagai hari suci kaum Syiah atas kematian Husein bin Ali, seperti yang berkembang dalam tradisi tabot di Pariaman di Sumatra Barat dan Bengkulu. Ketiga, Buya Hamka Haji Abdul Malik Karim Amrullah mengatakan bahwa Islam berasal dari tanah kelahirannya, yaitu Arab atau Mesir. Proses ini berlangsung pada abad pertama Hijriah atau abad ke-7 M. Daftar IsiIslam dan Jaringan Perdagangan Antar PulauIslam Masuk Istana RajaKerajaan Islam di SumateraKerajaan Samudra PasaiKesultanan Aceh DarussalamKerajaan-kerajaan Islam di RiauKerajaan Islam di JambiKerajaan Islam di Sumatera SelatanKerajaan Islam di Sumatera BaratKerajaan Islam di JawaKerajaan DemakKerajaan MataramKesultanan BantenKesultanan CirebonKerajaan Islam di KalimantanKerajaan Islam di SulawesiKerajaan Islam di Maluku UtaraKerajaan Islam di PapuaKerajaan Islam di Nusa TenggaraJaringan Keilmuwan di NusantaraAkulturasi dan Perkembangan Budaya IslamProses Integrasi Nusantara Islam dan Jaringan Perdagangan Antar Pulau Berita Tome Pires dalam Suma Oriental 1512-1515 memberikan gambaran mengenai keberadaan jalur pelayaran jaringan perdagangan, baik regional maupun menceritakan tentang lalu lintas dan kehadiran para pedagang di Samudra Pasai yang berasal dari Bengal, Turki, Arab, Persia, Gujarat, Kling, Malayu, Jawa, dan Siam. Selain itu Tome Pires juga mencatat kehadiran para pedagang di Malaka dari Kairo, Mekkah, Aden, Abysinia, Kilwa, Malindi, Ormuz, Persia, Rum, Turki, Kristen Armenia, Gujarat, Chaul, Dabbol, Goa, Keling, Dekkan, Malabar, Orissa, Ceylon, Bengal, Arakan, Pegu, Siam, Kedah, Malayu, Pahang, Patani, Kamboja, Campa, Cossin Cina, Cina,Lequeos, Bruei, Lucus, Tanjung Pura, Lawe,Bangka, Lingga, Maluku, Banda, Bima, Timor,Madura, Jawa, Sunda, Palembang, Jambi,Tongkal, Indragiri, Kapatra, Minangkabau, Siak,Arqua, Aru, Tamjano, Pase, Pedir, dan Maladiva. Berdasarkan kehadiran sejumlahpedagang dari berbagai negeri dan bangsa diSamudra Pasai, Malaka, dan bandar-bandardi pesisir utara Jawa sebagaimana diceritakanTome Pires, dapat disimpulkan adanya jalur-jalur pelayaran dan jaringanperdagangan antara beberapa kesultanan diKepulauan Indonesia baik yang bersifat regionalmaupun internasional. Islam Masuk Istana Raja Kerajaan Islam di Sumatera Sejak awal kedatangan Islam, Pulau Sumatra termasuk daerah pertama dan terpenting dalam pengembangan agama Islam di demikian mengingat letak Sumatra yang strategis dan berhadapan langsung dengan jalur perdangan dunia, yakni Selat Malaka. Kerajaan Samudra Pasai Samudra Pasai diperkirakan tumbuh berkembang antara tahun 1270 dan 1275, atau pertengahan abad ke-13 M. Kerajaan ini terletak lebih kurang 15 km di sebelahtimur Lhokseumawe, Nanggroe Aceh Darussalam. Kesultanan Aceh Darussalam Kesultanan Aceh Darussalam didirikan kurang lebih pada tahun 1496 M. Sesuai namanya, kerajaan ini terletak di wilayah yang paling terkenal dari kesultanan ini adalah Sultan Iskandar Muda. Kerajaan-kerajaan Islam di Riau Kerajaan Islam yang ada di Riau dan Kepulauan Riau menurut berita Tome Pires antaralain Kerajaan Kampar, Indragiri, dan Siak. Kerajaan Islam di Jambi Kerajaan Islam di Jambi terbentuk kurang lebih pada pertengahan abad ke-15 M. Kerajaan Islam di Sumatera Selatan Sejak Kerajaan Sriwijaya mengalami kelemahan bahkan runtuh sekitar abad ke-14, mulailah proses Islamisasi sehingga pada akhir abad ke-15 muncul komunitas Muslim di Palembang. Secara resmi, kerajaan islam di Sumatera Selatan yang bernama Kesultanan Palembang. Kerajaan ini didirikan pada sekitar tahun 1659 M. Kerajaan Islam di Sumatera Barat Islam yang datang dan berkembang di Sumatra Barat diperkirakan pada akhir abad ke-14 atau abad 15, sudah memperoleh pengaruhnya di kerajaan besar Minangkabau. Kerajaan Islam di Jawa Berdasarkan catatan sejarah,I slam itu sudah lama masuk ke Pulau Jawa, jauh sebelum bangsa Barat menjejakkan kaki di pulau ini. Untuk lebih jelasnya marilah kita paparkan sekelumit kerajaan-kerajaan Islam di Pulau Jawa. Kerajaan Demak Kerajaan Demak berdiri sekitar tahun 1500 M. Ketika masa kejayaannya, kekuasaan Kerajaan Demak meliputi Pesisir Jawa bagian tengah dan timur, Palembang, Jambi, dan beberapa daerah di Kalimantan. Raja yang paling terkenal dari kerajaan ini adalah Raden Fatah. Kerajaan Mataram Kerajaan Mataram berdiri sekitar tahun 1587 M. Pada masa jayanya, kerajaan ini menyatukan sebagian pulau Jawa, Madura, dan Sukadana. Raja yang paling terkenal adalah Mas Rangsang atau yang lebih dikenal Sultan Agung Kesultanan Banten Kesultanan Banten berdiri sekitar 1526 M. Kerajaan ini terletak di bagian barat Pulau yang terkenal adalah Sultan Ageng Tirtayasa. Kesultanan Cirebon Kesultanan Cirebon berdiri sekitar tahun 1400-an. Kesultanan Cirebon terletak di perbatasan Jawa Barat dan Jawa yang terkenal dari kerajaan ini adalah Syarif Hidayatullah. Kerajaan Islam di Kalimantan Di samping Sumatra dan Jawa, ternyata di Kalimantan juga terdapat beberapa kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam. Di antara kerajaan Islam itu adalah Kesultanan Pasir, Kesultanan Banjar, Kesultanan Kotawaringin, Kerajaan Pagatan, Kesultanan Sambas, Kesultanan Kutai Kartanegara, Kesultanan Berau, Kesultanan Sambaliung, Kesultanan Gunung Tabur, Kesultanan Pontianak, Kesultanan Tidung, dan Kesultanan Bulungan. Kerajaan Islam di Sulawesi Di daerah Sulawesi juga tumbuh kerajaan-kerajaan bercorak kerajaan-kerajaan Islam di Sulawesi tidak terlepas dari perdagangan yang berlangsung ketika ini adalah beberapa kerajaan Islam di Sulawesi di antaranya Gowa-Tallo, Bone, Wajo dan Soppeng, dan Kesultanan Buton. Kerajaan Islam di Maluku Utara Di daerah Maluku Utara terdapat dua kerajaan besar bercorak Islam, yakni Ternate dan kerajaan ini terletak di sebelah barat Pulau Halmahera, Maluku kerajaan itu pusatnya masing-masing di Pulau Ternate dan Tidore, tetapi wilayah kekuasaannya mencakup sejumlah pulau di Kepulauan Maluku dan Papua. Kerajaan Islam di Papua Sumber-sumber sejarah menunjukkan bahwa penyebaran Islam di Papua sudah berlangsung sejak lama. Bahkan, berdasarkan bukti sejarah terdapat sejumlah kerajaan-kerajaan Islam di Papua, yakni Kerajaan Waigeo, Kerajaan Misool, Kerajaan Salawati, Kerajaan Sailolof, Kerajaan Fatagar, Kerajaan Rumbati terdiri dari Kerajaan Atiati, Sekar, Patipi, Arguni, dan Wertuar, Kerajaan Kowiai Namatota, Kerajaan Aiduma, Kerajaan Kaimana. Kerajaan Islam di Nusa Tenggara Kehadiran Islam ke daerah Nusa Tenggara antara lain ke Lombok diperkirakan terjadi sejak abad ke-16 yang diperkenalkan Sunan Perapen, putra Sunan Giri. Islam masuk ke Sumbawa kemungkinan datang lewat Sulawesi, melalui dakwah para mubalig dari Makassar antara 1540-1550. Kemudian berkembang pula kerajaan Islam antara lain Kerajaan Selaparang dan Kerajaan Bima. Jaringan Keilmuwan di Nusantara Sebagai agama yang paripurna, islam pun mengatur persoalan pendidikan. Bahkan dalam sejarahnya, islam sangat memperhatikan persoalan ini. Buktinya Sultan-sultan di Indonesia mendanai kegiatan-kegiatan di mereka juga mendatangkan para ulama, baik dari mancanegara, terutama Timur Tengah, maupun dari kalangan ulama pribumi ulama yang kemudian juga difungsikansebagai pejabat-pejabat negara, bukan saja memberikan pengajaran agama Islam di masjid-masjid negara, tetapi juga di istana sultan dan pejabat tinggi rupanya juga menimba ilmu dari para halnya yang terjadi di Kerajaan Islam Samudera Pasai dan Kerajaan Malaka. Berkembangnya pendidikan dan pengajaran Islam, telah berhasilmenyatukan wilayah Nusantara yang sangat luas. Dua hal yangmempercepat proses itu yaitu penggunaan aksara Arab dan bahasaMelayu sebagai bahasa pemersatu lingua franca. Semua ilmu yangdiberikan di lembaga pendidikan Islam di Nusantara ditulis dalamaksara Arab, baik dalam bahasa Arab maupun dalam bahasa Melayuatau Arab itu disebut dengan banyak sebutan, sepertihuruf Jawi di Melayu dan huruf pegon di Jawa.Luasnya penguasaanaksara Arab ke Nusantara telah membuat para pengunjung asal Eropake Asia Tenggara terpukau oleh tingginya tingkat kemampuan bacatulis yang mereka jumpai. Akulturasi dan Perkembangan Budaya Islam Masuknya islam juga menjadikan adanya proses akulturasi kebudayaan, hal ini bisa dibuktikan dengan adanya corak islam dalam beberapa sisi kebudayaan, antara lain Seni BangunanSeni UkirAksara dan Seni SastraKesenian Kalender Proses Integrasi Nusantara Integrasi suatu bangsa adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan adanya integrasi akan melahirkan satu kekuatan bangsa yang ampuh dan segala persoalan yang timbul dapat dihadapi bersama-sama. Proses integrasi bangsa ini dipengaruhi beberapa faktor, antara lain Peranan Para UlamaPeran Perdagangan Antar PulauPeran Bahasa. Islamisasidansilangbudaya di Nusantara NAFILA, sarjana – sarjana Barat kebanyakandarinegeriBelanda– mengatakanbahwaislam yang masukkepulauan Indonesia berasaldari Gujarat sekitarabadke – 13 M atauabadke – 7 H. • Gujarat terletak di India bagianbarat, berdekatandenganlaut Arab. Letaknyasangatstrategisberadadijal Arab yang bermahzabsyafi’Itelahbekermukim di Gujarat danmalabarsejakawaltahunhijriyah abadke – 7 M . • Orang yang menyebarkan Islam ke Indonesia menurutPijnapelbukanlah orang Arab langsun, melainkanparapedagang Gujarat yang telahmemeluk agama islamdanberdagangkeduniatimur. Pendapat J. Pijnapelkemudiandidukungoleh C. SnouckHurgroney, dan J. P Moquetta 1912. Argumentasinyadidasarkanpadabatunisan Sultan Malik Al – Saleh yang wafatpada 17 Dzulhijjah 831 H atau 1297 M di Pasai, Aceh. • Menurutnyabatunnisan di PasaidanmakamMaulana Malik Ibrahim yang wafattahun 1419 di Gresik, JawaTimur, memilikibentuk yang samadenganbatunnisan yang terdapat di Kambay, Gujarat. Moquettakemudianberkesimpulanbahwabatunisantersebutdiimpordari Gujarat atausetidaknyadibuatoleh orang Gujarat atau orang Indonesia yang telahbelajarkaligrafikhas GujaratDimulaisekitarabad 7 M yang melibatkanpedang-pedagangArab, Persia danIndia. Proses inisangatmenguntungkan. • Denganberdagangdanberinteraksidenganpendudukbisamenyebarkan agama Islam PerdaganganPara pedagangmulaimembentukkeluargadengancaramenikahiparapenduduklokal. PerkawinanPara tokoh Islam menyelenggarakanpendidikanmelaluipondokpesantrenbagiparasantri-santinya. • Dari parasantriinilahnantinya Islam akandisosialisasikan di tengah-tengahmasyarakat. PendidikanKetikaseorang raja memeluk Islam, makasecaratidaklangsungbiasanyarakyatmengikutijejakrajanya. • Dengandemikian, setelah agama Islam mulaitumbuhdimasyarakat, kepentinganpolitikdilaksanakanmelaluiperluasanwilayahkerajaan yang diikutidenganpenyebaran agama. PolitikIslamisasimelaluibidangsenibudayadapatdilalukanmelaluibeberapacarasepertisenibangunan, senipahatatauukir, tari, musik, dansastra. • Saluranseni yang paling terkenaladalahpertunjukkanwayangdanmusik. SenidanBudaya

rangkuman islamisasi dan silang budaya di nusantara